RESUME ILMU KALAM 4

 

PENDALAMAN MATERI

(Lembar Kerja Resume Modul)

 

A.  Judul Modul           : ILMU KALAM

B.  Kegiatan Belajar : Ilmu Kalam (KB 4)

C.  Refleksi

NO

BUTIR REFLEKSI

RESPON/JAWABAN

1

Peta Konsep (Beberapa istilah dan definisi) di modul bidang studi

1.     Aliran-aliran Ilmu Kalam

a.    Khawarij

Aliran Khawarij merupakan Aliran teologi tertua. Menurut bahasa nama khawarij ini berasal dari kata “kharaja” yang berarti keluar. Nama itu diberikan kepada mereka yang keluar dari barisan Ali. Kelompok ini kadang menyebut dirinya “Syurah” yang berarti golongan yang mengorbankan dirinya untuk Allah.  Disebut juga Haruriyah (dari kata harura), nama suatu tempat dekat Kufah, yang merupakan tempat mereka menumpahkan rasa penyesalannya kapada Ali bin abi Thalib yang mau berdamai dengan Mu’awiyah.

Menurut Ibnu Abi Bakar Ahmad Al-Syahrastani, Khawarij adalah setiap orang yang keluar dari imam yang hak dan telah di sepakati para jema’ah, baik pada masa sahabat khulafaur rasyidin, atau pada masa tabi’in secara baik-baik.

Kelompok khawarij merupakan bagian dari kelompok pendukung Ali bin Abi Thalib yang memisahkan diri, karena sikap Ali bin abi Thalib yang menerima tahkim (arbitrase) dalam upaya untuk menyelesaikan perselisihan dan konfliknya dengan Mu’awiyah bin Abi Sofyan, gubernur Syam, pada waktu perang Shiffin.

Mereka beralasan bahwa tahkim itu merupakan penyelesaian masalah yang tidak didasarkan pada ajaran Al-Qur’an, tapi ditentukan oleh manusia sendiri, dan orang yang tidak memutuskan hukum dengan Al-quran adalah kafir. Dengan demikian, orang yang melakukan tahkim dan merimanya adalah kafir. Atas dasar ini, pendukung Ali ini selanjutnya berbalik menentang dan memusuhi Ali beserta tiga orang tokoh pelaku tahkim lainnya yaitu Abu Musa Al-Asyari, Mu’awiyah bin Abi Sofyan dan Amr bin Ash sehingga mereka berusaha keras agar dapat membunuh mereka.

Diantara tokoh-tokoh khawarij yang terpenting adalah Abdullah bin Wahab al-Rasyidi (pimpinan Khawarij pertama), Urwah bin Hudair, Mustarid bin sa’ad, Hausarah al-Asadi, Quraib bin Maruah, Nafi’ bin al- azraq (pimpinan al-Azariqah), Abdullah bin Basyir, Zubair bin Ali, (9) Qathari bin Fujaah, Abd al-Rabih, Abd al Karim bin ajrad, Zaid bin Asfar dan Abdullah bin ibad.

Sedangkan sekte-sekte yang berkembang pada aliran Khawarij adalah Al-Muhakkimah, Al- Azariqah, AlNajdat, Al-baihasyiah, Al-Ajaridah, Al- Sa’Alibah, Al-Ibadiah dan Al Sufriyah.

Secara umum pokok ajaran Khawarij meliputi:

1)   Orang Islam yang melakukan dosa besar kafir dan harus dibunuh.

2)   Orang-orang yang terlibat dalam perang jamal dan pelaku tahkim termasuk yang menerima dan membenarkannya dihukum kafir;

3)   Khalifah harus dipilih langsung oleh rakyat.

4)   Khalifah tidak harus keturunan Arab.

5)   Khalifah dipilih permanen jika bisa bersikap adil dan menjalankan syari’at Islam, dan di jatuhi hukuman bunuh bila zhalim.

6)   Khalifah sebelum Ali adalah sah, tetapi setelah tahun ke tujuh dari masa kekhalifahannya Usman r.a dianggap telah menyeleweng,

7)    Khalifah Ali dianggap menyelewang setelah terjadi Tahkim (Arbitrase).

b.   Murji’ah

Ajaran-ajaran dalam Murji’ah sebagai berikut:

1)   Iman hanya membenarkan (pengakuan) di dalam hati

2)   Orang Islam yang melakukan dosa besar tidak dihukumkan kafir.

3)   Muslim tetap mukmin selama ia mengakui dua kalimat syahadat.

4)   Hukum perbuatan manusia ditangguhkan hingga hari kiamat

c.    Mu’tazilah

Mu’tazilah berasal dari kata i’tizal” yang artinya “memisahkan diri”, pada mulanya nama ini di berikan oleh orang dari luar Mu’tazilah karena pendirinya, Washil bin Atha’, tidak sependapat dan memisahkan diri dari gurunya, Hasan al-Bashri.

Aliran ini lahir kurang lebih 120 H, pada abad permulaan kedua Hijrah di kota Basyrah, namun sebenarnya telah muncul pada pertengahan abad pertama hijrah yakni diisitilahkan pada para sahabat yang memisahkan diri atau besikap netral dalam peristiwa-peristiwa politik (peristiwa meletusnya perang Jamal dan perang Shiffin) yang kemudian mendasari sejumlah sahabat untuk netral dan memilih untuk menjauhkan diri mereka dan memilih jalan tengah.

Latar belakang munculnya kedua Mu’tazilah itu, tidaklah sama dan tidak ada hubungannya karena yang pertama lahir akibat kemelut politik, sedangkan yang kedua muncul karena didorong oleh persoalan aqidah.

Di antara para tokoh-tokoh yang berpengaruh pada Mu’tazilah yaitu Washil bin Atha’, Abu Huzail al-Allaf, Al Nazzam, dan Al- Jubba’i. Prinsip pokok ajaran Mu’tazilah yang dirumuskan oleh Abu Huzail al-Allaf :

1)   Tauhid (keesaan Allah)

2)   Al-‘Adl (keadilan Tuhan)

3)   Al-Wa’d wa al-Wa’id (janji dan ancaman)

4)   Al-Manzilah baina al-Manzilatain (posisi di antara posisi)

5)   Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar.

d.   Ahlussunah Wal-Jamaah

Ahlussunnah wal Jama’ah (Sunni) mengandung arti “penganut sunnah Nabi dan para sahabatnya. Aliran Sunni dibedakan menjadi dua pengertian, yaitu khusus dan umum. Sunni dalam pengertian umum adalah lawan kelompok Syi’ah. Dalam pengertian ini, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturudiyah masuk kategori Sunni. Sunni dalam pengertian khusus adalah mazhab yang berada dalam barisan Asy’ariyah dan merupakan lawan Mu’tazilah.

Aliran ini, muncul sebagai reaksi setelah munculnya aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah, dua aliran yang menentang ajaran ajaran Mu’tazilah. Tokoh utama yang juga merupakan pendiri mazhab ini adalah Abu al Hasan al Asy’ari dan Abu Mansur al Maturidi.

Adapun ajaran Abu al Hasan al Asy’ari (aliran ‘Asy’ariyah):

1)   Sifat-sifat Tuhan, Tuhan memiliki sifat-sifat sebagaimana disebut Al- Qur’an.

2)   Al-Quran adalah Qadim dan bukan makhluk yang diciptakan Allah

3)   Perbuatan Manusia diciptakan Tuhan, bukan diciptakan oleh manusia itu sendiri.

4)   Antrophomorphisme

5)   Keadilan Tuhan, Tuhan tidak mempunyai kewajiban apapun untuk menentukan tempat manusia di Akhirat.

6)   Muslim yang berbuat dosa dan tidak sempat bertobat di akhir hidupnya tidaklah kafir dan tetap mukmin.

 

Adapun pokok ajaran Abu Manshur Al-Maturidi (aliran Maturudiyah) sebagai berikut:

1)   Maturudiyah sependapat dengan ‘Asy’ariyah tentang sifat-sifat Tuhan

2)   Perbuatan manusia sebenarnya diwujudkan oleh manusia itu sendiri, dan bukan merupakan perbuatan Tuhan.

3)   Maturudiyah sependapat dengan ‘Asy’ariyah tentang Al Quran

4)   Tuhan memiliki kewajiban-kewajiban tertentu

5)   Maturudiyah sependapat dengan ‘Asy’ariyah tentang muslim yang berbuat dosa

6)   Janji pahala dan siksa mesti terjadi

7)   Antrophomorphisme

 

2.    Perbuatan Manusia dalam Kaitannya dengan Perbuatan Tuhan

a.    Jabariyah

Aliran Jabariyah memahami bahwa manusia tidak berkuasa atas perbuatannya. Hanya Allah sajalah yang menentukan dan memutuskan segala amal perbuatan manusia. Semua amal perbuatan itu adalah atas qudrat dan iradat-Nya. Manusia tidak mempunyai otoritas sama sekali dalam mewujudkan perbuatannya (Ijbari). Jabariyah berpendapat bahwa hakikat wujud perbuatan manusia adalah perbuatan Allah.

Paham Jabariyah adalah paham yang dikemukakan oleh Jahm bin Shafwan, sehingga disebut dengan Jahamiyah. Paham ini sebenarnya hanya cocok bagi kelompok minoritas manusia yang sudah dalam tingkat “Haqq al-Yaqin” yang sudah terbuka hijab tabir Tuhan, dan bisa salah paham bila dipahami oleh masyarakat awam.

b.   Qadariyah dan Mu’tazilah

Kelompok aliran Qodariah dan Mu`tazilah berpendapat bahwa Allah swt. telah membekali manusia sejak lahir dengan qudrat dan iradat- Nya, yaitu kemampuan untuk mewujudkan perbuatannya sendiri dengan akal dan ajaran agama sebagai pedoman. Manusia dan jin adalah makhluk Allah yang diberi kebebasan dan memiliki kemampuan mewujudkan perbuatannya, maka harus mempertanggungjawabkan perbuatan tersebut di hadapan Allah swt.

Aliran Qadariyah berpandangan bahwa manusia bebas mempergunakan pikiran dan berbuat sendiri. Tuhan tidak ikut campur tangan dalam perbuatan manusia. Manusia sendirilah yang melakukan perbuatan itu.

c.    Asy’ariyah dan Maturudiyah

Aliran Asy’ariyah dan Maturidiyah dalam memahami perbuatan manusia mengambil jalan tengah (tawazun/moderat), yaitu antara Jabariyah dan Qadariyah (Mu’tazilah). Asy’ariyah menggunakan teori “al- Kasb” dalam menggambarkan perbuatan manusia dalam kaitannya dengan perbuatan Tuhan. Menurut Asy’ariyah, perbuatan manusia adalah proses sintesa (perpaduan) antara energi sebagai ciptaan dan wujud kehendak Allah dengan kehendak manusia dalam mewujudkan perbuatannya.

 

3.    Sifat-Sifat Tuhan

a.    Mu’tazilah

Mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan tidak mempunyai sifat. Mu’tazilah berargumen bahwa jika Tuhan mempunyai sifat dan Zat Tuhan berarti Allah tersusun, jika demikian maka yang bersifat kekal bukan satu, tetapi banyak.

Jika Tuhan itu mempunyai sifat-sifat maka akan menyebabkan paham “banyak yang kekal” (ta’adud al-qudama’) yang dapat melahirkan paham syirik (Polytheisme). Menurut Mu’tazilah, Tuhan itu Esa. Untuk menyucikan keesaan Tuhan, aliran Mu’tazilah menafikan sifat-sifat bagi Tuhan. Dengan cara demikian, golongan Mu’tazilah mengklaim dirinya sebagai golongan Ahlut Tauhid wal’Adil.

b.   Asy’ariyah

Aliran Asy’ariyah sependapat dengan Maturidiyah bahwa Tuhan mempunyai sifat- sifat. Sifat-sifat Tuhan kekal melalui kekekalan yang terdapat dalam esensi Tuhan. Sifat-sifat Allah tak terhingga jumlahnya. Ibarat matahari dengan sinarnya, sinar matahari bukanlah matahari akan tetapi sinar tersebut tidak di luar matahari. Antara Zat dan sifat Tuhan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan

 

2

Daftar materi bidang studi yang sulit dipahami pada modul

1.     Antrophomorphisme

3

Daftar materi yang sering mengalami miskonsepsi dalam pembelajaran

1.     Awal problematika teologis di kalangan umat Islam muncul pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

  PENERAPAN STRATEGI QSH   SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN SISWA PADA MAPEL AKIDAH AKHLAK KELAS IV MI TARBIYATUL   ISLAMIYAH WINONG...